Beberapa waktu yang lalu, kami dimintai referensi oleh salah satu event organizer (EO) untuk mencarikan pembicara training dengan topik “How to support your husband” yang akan diikuti oleh istri-istri karyawan di sebuah BUMN terkenal tanah air.

Pada kesempatan yang lain, kami juga dimintai referensi oleh salah satu eksekutif perusahaan untuk mencarikan trainer “brain gym” bagi anak-anak karyawan yang masih duduk di bangku sekolah TK dan SD.

Training untuk anggota keluarga karyawan difasilitasi dan disupport oleh company. Fenomena apakah ini? Apakah sudah terjadi pergeseran paradigma dari orientasi training di perusahaan, yang semula hanya untuk karyawan sekarang mulai mengarah ke training yang juga melibatkan keluarga karyawan?

Situasi ekonomi makro Indonesia yang masih kurang kondusif, ditambah semakin ketatnya persaingan bisnis melahirkan tuntutan di segala level karyawan untuk fokus berjuang, berusaha keras, bersatu padu untuk membuat perusahaan terus berkembang, tumbuh, dan menang di pasar.

Dalam konteks demikian, support keluarga sangat diperlukan dan penting sekali peranannya. Kehidupan keluarga yang harmonis, sehat, dan bahagia merupakan dukungan luar biasa untuk setiap karyawan dalam berkontribusi aktif dan produktif dalam bekerja di perusahaan. Peran penting dan daya dukung keluarga inilah yang saat ini menjadi concern perusahaan. Jika karyawan tidak bermasalah di keluarga, ia akan fokus dan produktif dalam bekerja.

Oleh karena itu, selain contoh family training di atas, ada alternatif modul-modul training lain yang dapat di create. Seperti: “How to manage family cash flow, cara cerdas merencanakan keuangan keluarga, tips praktis menghindarkan jebakan hutang, keterampilan memasak cake kering, kue bolu, tata rias untuk menopang ekonomi keluarga, melatih sejak dini anak agar meningkat kreativitasnya”. Bahkan ada pula perusahaan yang sudah berani memberikan permodalan bagi rintisan bisnis keluarga yang dikelola oleh keluarga karyawan. Biasanya disalurkan dan dikoordinasi melalui koperasi karyawan.